Wamena Punya Cerita

by - Oktober 03, 2020






wamena-ku


Wamena, kaulah tempatku berpijak dimana aku dilahirkan ke dunia ini dan dibesarkan bersama angin, bersama dedaunan dan bersama kicauan suara burung. Aku bangga padamu wamena ku, kaulah surga kecilku tak ada yang dapat dibandingkan cintaku padamu. Aku cinta padamu selalu dan selamanya.

 

Di kala matahari mulai terbenam, suasana sore hari semakin ramai dan terlihat Mama- mama yang lagi duduk sambil anyam noken dan saling berbagi cerita, juga Bapa-bapa yang duduk dalam honai ditemani dengan musik pikon sembari bercanda tawa bersama. Begitulah kebersamaan yang sederhana namun memberikan kehangatan dan kenyamanan yang efektif.

 

Dan kini entah apa yang telah terjadi sehingga ku lewati siang dan malam selalu di-iringi dengan suara sirene (ambulance) dan tangisan dari balik gunung pun tak kunjung henti, air mata mengalir bagaikan mata air. Yang dulunya kau diselimuti dengan kabut dan sejuknya akan keindahan alam namun kini kau dilingkupi dan diselimuti dengan ketakutan yang drastis. Cenderawasih pasti bersedih melihat semuanya.

 

Mereka pun terus bertambah jumlahnya dan kami perlahan mengurang sampai di ambang kepunahan,  honai- honai sudah takberhuni entah kemana penghuninya pergi tak tahu dimana rimbanya. Tak ada suara pikon, tak ada cerita dan canda tawa hanya alam yang membisu. alam mungkin menangis, menangis dengan hati ter-iris melihat semuanya begitu cepat berlalu. Seandainya kau masih disini aku ingin bercerita, aku hanya mau kita yang seperti dulu, aku rindu.



Trimakasih untuk kalian yang sudah membaca tulisan ini, salam hormat. wa wa wa...🙏



written by. Wendanak





You May Also Like

4 komentar